MENU

Tangkahan, Surga Yang Tersembunyi

Screen Shot 2016-02-23 at 2.14.47 AM

February 22, 2016 Comments (0) Environment, Indonesia & The EU

Terletak di ujung Taman Nasional Gunung Leuser tepatnya di desa Namo Sialang, Batang Serangan, Langkat Sumatera Utara membuat kawasan ekowisata Tangkahan mempunyai daya tarik tersendiri akan keindahan alamnya. Sebagai pemenang dari lomba video ‘our earth,our action’, saya merasa sangat beruntung karena pada tanggal 29 Januari hingga 30 Januari 2016 kemarin saya dan satu teman saya berkesempatan untuk mengunjungi Conservation Response Unit yang berada di Tangkahan serta bertemu dengan Eropa, anak gajah yang lahir pada 1 September 2015 dan diadopsi oleh Uni Eropa di Indonesia. Pengadopsian anak gajah tersebut merupakan bentuk semangat dan kontribusi Uni Eropa untuk terus mendukung upaya konservasi dan pelestarian ekosistem terutama di kawasan Tangkahan.

Screen Shot 2016-02-23 at 2.07.33 AM

Untuk mencapai Tangkahan, kami menempuh perjalanan darat sekitar 4-5 jam dari kota Medan. Perjalanan darat yang memakan waktu cukup lama ditambah dengan jalan menuju kesana yang belum seluruhnya teraspal akan terbayar karena suasana dan pemandangan yang masih asri dan alami. Penginapan kami saat berada disana yaitu Green Lodge langsung berhadapan dengan sungai Batang Serangan sehingga dapat dibayangkan betapa asrinya suasana disekitar kami. Kesempatan untuk melihat dan bercengkrama dengan masyarakat lokal yang menjadikan sungai Batang Serangan sebagai tempat memancing juga menjadi pengalaman unik tersendiri yang membuat perjalanan kami semakin menyenangkan.

Pada pagi hari tanggal 30 Januari 2016, kami akhirnya dapat bertemu dengan Eropa , anak gajah yang diadopsi oleh Uni Eropa di Indonesia. Bersama induknya, beberapa gajah lain yang ada di CRU serta para mahout dari tim CRU Tangkahan, kami berangkat menuju sungai Batang Serangan untuk melakukan aktivitas memandikan gajah dan memberi makan gajah yang biasa dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Kesempatan untuk mengenal lebih dekat Eropa yang saat ini berusia sekitar lima bulan menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami. Kegiatan kami bersama gajah tidak berhenti disitu saja. Setelah aktivitas tersebut kami berkesempatan untuk ikut dan melihat secara langsung ‘angon’ gajah yang dilakukan di seberang sungai Batang Serangan yang sudah masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. ‘Angon’ gajah sendiri merupakan aktivitas melepas gajah ke hutan dengan tujuan agar gajah dapat belajar untuk mencari makan sendiri di habibat aslinya serta agar gajah dapat tetap bisa merasakan hidup di habitat asli. Selain berinteraksi dengan gajah, kami juga berkesempatan untuk melakukan jungle trekking serta bermain di sungai dan air terjun yang ada di Tangkahan. Para penduduk lokal yang sangat ramah juga menjadikan pengalaman kami di Tangkahan semakin mengesankan.

Screen Shot 2016-02-23 at 2.19.32 AM

Bapak Edi Sunardi sebagai Kepala CRU dan juga seluruh tim CRU yang berjumlah 13 orang menyambut kami dengan sangat baik dan memberikan banyak pengetahuan baru tentang gajah dan upaya konservasi yang mereka lakukan di Tangkahan dan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. CRU bersinergi dengan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam dan hutan di kawasan. CRU rutin melakukan patroli hutan bersama gajah dan merawat serta melatih beberapa gajah korban konflik antara gajah dan manusia karena sengketa lahan. Menurut penuturan tim CRU, sebelumnya pada tahun 1980 hingga tahun 1990-an, hampir semua masyarakat di Tangkahan berprofesi sebagai pembalak liar di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang 24 persen areanya berada di wilayah Sumatera Utara. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat mulai sadar akan resiko dan dampak kerusakan yang mereka lakukan untuk jangka panjang sehingga muncul kesepakatan desa untuk menghentikan pembalakan kayu illegal pada sekitar tahun 2001. Sebagai kompensasi dari hilangnya mata pencaharian masyakarat yang berasal dari illegal logging, masyarakat berkomitmen untuk mengembangkan Tangkahan sebagai kawasan ekowisata dalam suatu wadah yaitu Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) . LPT dan CRU kemudian saling bekerjasama dalam pengembangan Tangkahan sebagai kawasan ekowisata. Dengan berkembangnya ekowisata tersebut dari waktu ke waktu membuat masyarakat tidak lagi menjadikan pembalakan liar sebagai sumber mata pencaharian karena sekarang mereka bisa hidup dari sektor pariwisata.

Screen Shot 2016-02-23 at 2.15.36 AM

Tangakahan hadir sebagai kawasan ekowisata yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan seiring dengan berjalannya kegiatan ekonomi. Para guide lokal yang ada disana siap untuk mendampingi para pengunjung untuk mengeksplor lebih dalam keindahan Tangkahan mulai dari menyusuri hutan, bermain-main disungai, memberi makan gajah, memandikan gajah hingga camping di hutan. Keindahan alam dan keasrian yang dimiliki oleh Tangkahan mampu menciptakan suasana damai dan tenang yang biasa dicari oleh sebagian orang sehingga tidak mengherankan apabila Tangkahan disebut sebagai surga yang tersembunyi. Bagi kami, Tangkahan seakan memiliki jiwa tersendiri yang membuat kami merasa tenang dan hidup ketika berada disana dan membuat kami ingin cepat kembali berkunjung. Secara keseluruhan, pengalaman berkunjung ke Tangkahan memberikan banyak pengalaman dan pelajaran baru bagi kami terutama tentang konservasi. Pengalaman berinteraksi langsung dengan gajah dan belajar langsung dari tim CRU tentang konservasi semakin mendorong tekad kami untuk terus berkomitmen mendukung upaya konservasi dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Share this on:Share on Google+Share on FacebookShare on LinkedInTweet about this on TwitterShare on Tumblr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + seventeen =