MENU

Musim Dingin yang Istimewa Namun Tak Selamanya Indah

January 22, 2016 Comments (0) Culture & Education, Indonesia & The EU, Uncategorized

Tahun 2015 telah berlalu saat musim dingin memasuki bulan kedua. Matahari dan awan mendung silih berganti menghiasi langit Goettingen, namun tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa salju akan turun. Kebanyakan orang yang menetap disini bercerita bahwa beberapa tahun belakangan memang tak ada salju yang turun di kota kecil ini. Apakah hal itu disebabkan oleh perubahan iklim? Entahlah. Saya pun tak tau banyak tentang itu, yang saya tau hanyalah harapan saya untuk melihat salju pertama mungkin akan pupus.

 

Foto 2

Seminggu setelah perayaan tahun baru usai saya membuat keputusan yang cukup sederhana, yakni berhenti melihat ramalan cuaca dan menerka-nerka kapan salju akan datang menyapa. Tak disangka beberapa hari kemudian butiran kristal putih yang tak dinantikan lagi itu pun akhirnya turun. Meskipun hanya bertahan dua hari, pengalaman pertama melihat salju tetap saja istimewa. Sesaat saya merasa seperti anak kecil lagi. Melempar bola-bola salju atau menulis nama diatastanah seakan menjadi hal wajib yang tak boleh terlewatkan.

 

Foto 3

Bagi banyak orang yang berasal dari daerah tropis seperti saya, menikmati musim dingin dan bermain dengan salju merupakan impian sederhana yang selalu terlintas di angan-angan. Namun tak selamanya musim dingin itu seindah yang dibayangkan. Terkadang lelehan salju membuat jalanan tampak kotor dan licin, menuntut setiap orang untuk selalu berhati-hati ketika sedang bersepeda. Disamping itu, ada suatu keadaan dimana cuaca terus memburuk dan disaat yang sama saya harus menyelesaikan kewajiban diluar sana. Bersiap menarik hangatnya selimut dan tetap melangkah menaklukkan suhu dibawah nol derajat yang menusuk-nusuk. Seperti layaknya sebuah ujian untuk membuktikan sejauh apa saya sanggup bertahan dengan cuaca yang tidak bersahabat itu. Menyerah tentu saja bukan kata yang pantas diucapkan. Bersyukur dan nikmati sajalah setiap butiran salju, tetesan hujan, dan suhu dingin yang menusuk itu karena mungkin suatu saat masa-masa itu akan saya rindukan setelah kembali ke negeri tercinta.

 

 

Share this on:Share on Google+Share on FacebookShare on LinkedInTweet about this on TwitterShare on Tumblr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + nineteen =